Kamis

MAKALAH PEMAKAIAN TANDA BACA

MAKALAH
Pemakaian Tanda Baca





Disusun Oleh :
SOENOKO, S.KOM





TANDA BACA


A.    Tanda Titik (.)
  1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Contoh:
Ø  Ibuku tinggal di Sukabumi.
Ø  Biarlah mereka duduk di sana.
Ø  Hari ini tanggal 13 Maret.
Ø  Marilah kita berdzikir

  1. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Contoh:
Ø  III.  Departemen Dalam Negeri
Ø  A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
Ø  B. Direktorat Jenderal Agraria
Patokan Umum
1.1    Isi Karangan
1.2    Ilustrasi
1.2.1            Gambar Tangan
1.2.2            Tabel
1.2.3            Grafik
Catatan:
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.

  1. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu.
Contoh:
Ø  pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)            

  1. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan jangka waktu.
Contoh:
Ø  1.35.20 jam ( 1 jam, 35 menit, 20 detik)
Ø  0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
Ø  0.0.30 jam (30 detik)       

  1. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Contoh:
Ø  Sukron, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltervreden: Balai Poestaka.

  1. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Contoh:
Ø   Desa itu berpenduduk 24.200 orang.
Ø   Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.

  1. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
Contoh:
Ø   Acara kunjungan Adam Malik
Ø   Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD ‘45)

  1. Tanda titik tidak dipakai di belakang.
(1) alamat pengirim dan tanggal surat atau
(2) nama dan alamat penerima surat.
Contoh:
Ø    Jalan Diponegoro 82 (tanpa titik)
Ø    Jakarta (tanpa titik)
Ø    1 April 1985 (tanpa titik)
Ø    Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik)
Ø    Jalan Arif 43 (tanpa titik)
Ø    Palembang (tanpa titik)
Atau:

Ø   Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik)
Ø   Jalan Cikini 71 (tanpa titik)
Ø   Jakarta (tanpa titik)

B.     Tanda Koma (,)
1.      Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Contoh:
Ø   Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
Ø   Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.

2.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat serata berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.
Contoh:
Ø   Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
Ø   Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.

3.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Contoh:
Ø   Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
Ø   Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

4.      Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula,meskipun begitu, akan tetapi.
Contoh:
Ø  ... Oleh karena itu, kita harus hati-hati.
Ø  ... Jadi, soalnya tidak semudah itu.

5.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.
Contoh:
Ø  O, begitu?
Ø  Wah, bukan main!
Ø  Hati-hati, ya, nanti jatuh.

6.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dari kalimat.
Contoh:
Ø  Kata Ibu, “ Saya gembira sekali.”           
Ø  “Saya gembira sekali,” kata Ibu, “karena kamu lulus.”

7.      Tanda koma dipakai di antara
(i) nama dan alamat,
(ii) bagian-bagian alamat,
(iii) tempat dan tanggal, dan
(iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Contoh:
Ø   Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pakuan, Bogor.
Ø   Sdr. Anwar, Jalan Pisang Batu 1, Bogor
Ø   Surabaya, 10 Mei 1960
Ø   Kuala Lumpur, Malaysia.

8.      Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Contoh:
Alisjahbana, Sultan Takdir. 1949. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.

9.      Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Contoh:
Ø  Ratulangi, S.E.
Ø  Ny. Khadijah, M.A.


10.  Tanda koma dipakai di muka angka persepuluh atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Contoh:
Ø   12,5 m
Ø   Rp 12,50

C.    Tanda Titik Koma (;)
1.      Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh:
Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.
2.      Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
Contoh:
Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk memasak di dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional.

D.    Tanda Titik Dua (:)
1.      Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Contoh:
Ø   Ketua                 : Moch. Achyar
Ø   Sekretaris           : Tati Suryati
Ø   Bendahara          : Noviana Pertiwi
2.      Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara surah dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Contoh:
(i)           Tempo, I (34), 1971:7
(ii)         Surah Yasin:9
(iii)       Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
(iv)       Marzuki dan Rudy W. 2006. Pembuatan Aneka Kerupuk. Jakarta: Penebar Swadaya.
3.      Titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Contoh:
Ayah         : “Karyo, sini kamu!”
Karyo        : (datang menghampiri) “Ada apa, Pak?”
Ayah         : “Tolong ambilkan sepatu hitam yang di atas lemari!”
4.      Titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.
Contoh:
Ø  Pak Adi mempunyai tiga orang anak: Ardi, Aldi, dan Asdi.
Ø  Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.

E.     Tanda Hubung (-)
1.     

Walaupun demikian, masih banyak yang ti-dak mematuhi peraturan tersebut.
Industri tersebut dapat dikembangkan men-jadi industri padat karya.
 
Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar atau kata berimbuhan yang terpisah oleh pergantian baris.
Contoh:

2.      Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Contoh:
Anak-anak, kupu-kupu, berulang-ulang, kemerah-merahan, mondar-mandir, sayur-mayur
3.      Tanda hubung menyambung huruf dari kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Contoh:
Ø  p-a-n-i-t-i-a
Ø  17-08-1945
4.      Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan kata dengan kata berikutnya atau sebelumnya yang dimulai dengan huruf kapital, kata/huruf dengan angka, angka dengan kata/huruf.
Contoh:
se-Indonesia, se-Jabodetabek, mem-PHK-kan, sinar-X, peringkat ke-2, S-1, tahun 50-an
5.      Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Contoh:
di-smash, pen-tackle-an
F.     Tanda Pisah
1.      Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
Contoh:
Kemerdekaan bangsa itu––saya yakin akan tercapai––diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
2.      Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Contoh:
Rangkaian temuan ini––evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom––telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
3.      Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau kata dengan arti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.
Contoh:
Ø  2004––2009
Ø  tanggal 1––10 Mei 2007
Ø  Jakarta––Bandung

G.    Tanda Seru (!)
1.      Tanda seru dipakai pada akhir ungkapan atau pernyataan yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ketakjuban, ataupun rasa emosi yang kuat.
Contoh:
Ø  Alangkah seramnya peristiwa itu!
Ø  Indah sekali pemandangan alam ini!
Ø  Merdeka!

H.    Tanda Tanya
1.      Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Contoh:
Ø  Kapan ia berangkat?
Ø  Saudara tahu, bukan?
2.      Tanda tanya dipakai di dalam kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan kebenarannya.
Contoh:
Ø  Ia dilahirkan pada tahun 1983 (?).
Ø  Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

I.       Tanda Petik (“...”)
1.      Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lainnya.
Contoh:
Ø  “Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”
Ø  Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”
2.      Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Contoh:
Ø  Sajak “Berdiri Aku” terdaapat pada halaman 5 buku itu.
Ø  Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA” diterbitkan dalam harian Tempo.
3.      Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Contoh:
Ø  Saat ini ia sedang tidak mempunyai pacar yang di kalangan remaja dikenal dengan “jomblo”.
Ø  Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “si Hitam”.

J.      Tanda Petik Tunggal (‘...’)
1.      Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Contoh:
Ø  Tanya Basri, Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
Ø  “Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.
2.      Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
Contoh:
Feed-back berarti ‘balikan’.

K.    Tanda Kurung ((...))
1.      Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Contoh:
Komisi A telah selesai menyusun GBPK (Garis-Garis Besar Program Kerja) dalam sidang pleno tersebut.
2.      Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
Contoh:
Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan perkembangan per-ekonomian Indonesia lima tahun terakhir.
3.      Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Contoh:
Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.
4.      Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Contoh:
Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).
Sahrul Gunawan berasal dari (kota) Bogor.

L.     Tanda Kurung Siku ([...])
1.      Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai korekssi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.
Contoh:
Sang Puteri men[d]engar bunyi gemerisik.
2.      Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
Contoh:
Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35––38]) perlu dibentangkan di sini.

M.   Tanda Garis Miring (/)
1.      Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Contoh:
No. 12/PK/2005
Jalan Kramat III/10
Masa Bakti 2005/2006
Tahun Ajaran 2006/2007
2.      Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.
Contoh:
Laki-laki/Perempuan
120 km/jam

N.    Tanda Elipsis (...)
1.      Tanda elipsis dipakai dalam kalimat atau dialog yang terputus-putus.
Misalnya:
Kalau begitu ... ya, ayo kita berangkat.
2.      Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya:
... selanjutnya akan di bawa ke pengadilan.
Ibu baru pulang ... pasar.
Catatan:
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, maka perlu dipakai empat buah titik; tiga titik untuk menandai penghilangan teks dan satu titik untuk menandai akhir kalimat.
Misalnya:
Ibu baru pulang dari....

O.    Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata.
Misalnya:
Ali ‘kan kusurati               (‘kan = akan)
Malam ‘lah tiba                 (‘lah=telah)







DAFTAR PUSTAKA

Pedoman umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Edisi Kedua berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 054a/U/1987, Tanggal 9 September 1987)

http://id.wikipedia.org/wiki/Tanda_baca






KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, berkat rahmat Allah SWT, serta taufik dan hidayah-Nya kami sebagai penyusun dapat menyelesaikan makalah yang  berjudul Pemakaian Tanda Baca dengan baik. Oleh karenanya kami sangat bersyukur kepada Allah SWT Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Kami sebagai penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangatlah kami harapkan guna introspeksi dan perbaikan pada pembuatan makalah selanjutnya.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah Bahasa Indonesia yang telah memberikan bimbingan dan motivasi dalam proses penyusunan makalah ini.
Akhirnya, harapan kami mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca.


Sukabumi,    Nopember 2010
Penyusun






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
TANDA BACA............................................................................................... 1
A.           Tanda Titik (.).........................................................................................
B.            Tanda Koma (,).......................................................................................
C.            Tanda Titik Koma (;)...............................................................................
D.           Tanda Titik Dua (:)..................................................................................
E.            Tanda Hubung (-)....................................................................................
F.             Tanda Pisah.............................................................................................
G.           Tanda Elipsis (...)....................................................................................
H.           Tanda Tanya............................................................................................
I.              Tanda Seru (!).........................................................................................
J.              Tanda Kurung ((...))................................................................................
K.           Tanda Kurung Siku ([...])........................................................................
L.            Tanda Petik (“...”)...................................................................................
M.          Tanda Petik Tunggal (‘...’)......................................................................
N.           Tanda Garis Miring (/).............................................................................
O.           Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘).......................................................
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar