Minggu

MAKALAH TANGGUNG JAWAB AYAH SEBAGAI PENDIDIKAN DALAM KELUARGA MENURUT ILMU PENDIDIKAN ISLAM


MAKALAH 
PENDIDIKAN ISLAM DALAM KELUARGA

TANGGUNG JAWAB AYAH SEBAGAI PENDIDIKAN DALAM KELUARGA MENURUT ILMU PENDIDIKAN ISLAM





Disusun oleh :
SOENOKO, S.Kom




BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Islam merupakan agama yang syamil, segala hal pasti telah diatur, tidak terkecuali masalah pendidikan anak. Anak merupakan amanah kedua orang tua. Anak tidak hanya suatu konsekuensi logis dari adanya pernikahan. Lebih jauh lagi, mereka adalah amanah yang suatu hari nanti kedua orang tuanya harus mempertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT Rasulullah SAW. bersabda:
“Kalian semua adalah pemimpin. Dan kalian semua akan dimintai pertanggngjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin di rumah tangganya, dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipiminnya. Seorang wanita (ibu) adalah pemipin di rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya” (Muttafaqun 'alaih).
Nah, jika menilik hadits tersebut, tanggung jawab pendidikan anak terletak pada kedua orang tua. Ayah yang notaben sebagai pemimpin keluarga biasanya bertindak sebagai pembuat grand design kebijakan yang ada dalam keluarga tersebut. Sedangkan ibu, sebagai pemimpin anak-anak, bertindak sebagai penerjemah kebijakan dari sang ayah untuk menerapkan kebijakan yang telah ditetapkan. Suatu ketika, jika terjadi penyimpangan terhadap anak, maka baik ayah maupun ibu harus mempertanggungjawabkan di hadapan Allah mengenai hal yang telah diamanahkan-Nya.
Namun yang terjadi sekarang, banyak peran orang tua yang terkotak-kotak: Ayah bekerja keluar rumah untuk mencari rezeki; dan ibu bertugas mengurusi kepentingan rumah tangga. Pembagian yang demikian 'tegas' ini menjadikan anak hanya 'akrab' dengan sosok ibu. Padahal ntuk identifikasi peran, baik anak laki-laki maupun perempuan tetap membutuhkan peran ayah di dalamnya.
Di mata anak, ayah mempunyai sikap yang tegas, disiplin, dan bertindak sebagai problem solver. Imej ini menyebabkan anak akan meminta bantuan ayah jika mereka terbentur pada suatu permasalahan. Sebaliknya, sikap ibu yang lembut, penyayang, serta sabar menyebabkan anak lebih suka 'lari' ke dalam pelukan ibu jika mendapatkan suatu masalah. Jika kedua orang tua hadir dalam sosok yang diidamkan anak yang klop, yaitu ayah sebagai problem solver dan ibu sebagai pengayom, maka kepribadian anak akan berkembang dengan baik.
Begitu penting peran ayah dalam pendidikan anak. Bagaimanapun kondisi ayah, tetap saja memiliki tanggung jawab terhadap anak yang diamanahkan Allah kepadanya. Tidak ada alasan karena sibuk bekerja sehingga tidak ada waktu untuk anaknya. Dalam hidup ini terdiri dari berbagai pilihan beserta konsekuensi yang menyertainya. Jika sekarang kita sebagai orang tua 'menomorduakan' anak yang benar-benar membutuhkan kehadiran kita, apa kita siap ketika kita membutuhkan kehadiran mereka di waktu usia senja kita, malah mereka 'mengutamakan' kerja seperti apa yang sekarang kita lakukan?

B.     Rumusan Masalah
  1. Bagaimana pendidikan Islam dalam keluarga?
  2. Bagaimana tanggung jawab keluarga dalam pendidikan Islam?
  3. Bagaimana Islam memandang peran ayah dalam keluarga?
  4. Bagaimana tanggung jawab ayah sebagai pendidikan dalam keluarga menurut Ilmu Pendidikan Islam?
  5. Bagaimana metode dalam mendidik anak menurut Ilmu Pendidikan Islam?

C.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui peran pendidikan Islam dalam keluarga
2.      untuk mengetahui tanggung jawab keluarga dalam pendidikan Islam
3.      untuk mengetahui peranan ayah dalam keluarga
4.      untuk mengetahui tanggung jawab ayah sebagai pendidikan dalam keluarga menurut Ilmu Pendidikan Islam
5.      Untuk mengetahui metode dalam mendidik anak menurut Ilmu Pendidikan Islam

D.    Sistematika Penulisan
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah
  2. Rumusan Masalah
  3. Tujuan Penulisan
  4. Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
  1. Pendidikan Islam Dalam Keluarga
  2. Keluarga Sebagai Lembaga Pendidikan Islam
  3. Tanggung Jawab Orang Tua Dalam Pendidikan Islam
  4. Ayah Sebagai Pemimpin Dalam Keluarga
  5. Tanggung Jawab Ayah Sebagai Pendidik
BAB III PENUTUP
  1. Simpulan
  2. Saran
DAFTAR PUSTAKA








BAB II PEMBAHASAN
TANGGUNG JAWAB AYAH SEBAGAI PENDIDIKAN DALAM KELUARGA MENURUT ILMU PENDIDIKAN ISLAM


A.     Pendidikan Islam Dalam Keluarga
Islam sebagai agama yang mempunyai makna cukup luas merupakan petunjuk bagi jalan kehidupan manusia dan merupakan rahmat bagi seluruh alam. Merupakan pandangn hidup dan sekaligus tujuan hidup manusia. Islam sebagai agama wahyu terakhir memiliki kebenaran yang universal dan absolut, tidak bertentangan dengan kebenaran akal meskipun kebenaran akal pun bersifat relatif, tidak berarti bahwa kebenaran akal sama dengan kebenaran agama.
Islam sebagai agama terakhir mengandung prinsip-prinsip ajaran yang lengkap dan meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, sebagaimana dijelaskan dalam Firman Alloh surat al-Maidah ayat 3 :

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah [5] : 3)
Dengan sifat kesempurnaan agama Islam, maka dalam menetapkan garis-garis kehidupan manusia pada dasarnya dapat mencukupkan diri dengan berpedoman pada Alquran dan sunah.
Kesempurnaan dan kelengkapan agama Islam sebagai agama wahyu tidak berarti bahwa semua masalah kehidupan sampai pada masalah-masalah yang kecil semuanya termuat dalam Alquran dan hadits. Kadangkala hanya memuat tentang pokok-pokok ajaran yang dianggap sangat prinsip yang tidak mengalami perubahan. Adapula yang terperinci, seperti masalah waris, nikah, dan sebagainya. Sedangkan untuk masalah sosial dan ilmu pengetahuan bersifat global.
Oleh karena itu, ijtihad dalam pendidikan Islam sangat diperlukan. Sebab, masalah-masalah pendidikan yang termuat dalam Alquran dan Hadits masih bersifat global. Apabila terdapat rincian, hal itu semata-mata sebagai contoh penerapan prinsip-prinsip tersebut. Sebagaimana kisah Lukmanul Hakim dengan anaknya dalam surat Lukman ayat 13 :

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Lukman [31] : 13)

B.     Keluarga Sebagai Lembaga Pendidikan Islam Pertama
Rumah keluarga muslim adalah benteng utama tempat anak-anak dibesarkan melalui pendidikan Islam. Yang dimaksud dengan keluarga muslim adalah keluarga yang mendasarkan aktivitasnya pada pembentukan keluarga yang sesuai dengan syari’at Islam. Menurut An-Nahlawi (2002:139-144), tujuan terpenting dari pembentukan keluarga adalah sebagai berikut :
  1. Mendirikan syari’at Allah dalam segala permasalahan rumah tangga;
  2. Mewujudkan ketentraman dan ketenangan psikologis;
  3. Mewujudkan sunnah Rasul SAW dengan melahirkan anak-anak saleh sehingga Rasul merasa bangga dengan kehadiran kita;
  4. Memenuhi kebutuhan cinta kasih anak; dan
  5. Menjaga fitrah anak agar tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan.
Dalam pandangan Islam anak adalah amanat yang dibebankan oleh Allah SWT kepada orang tuanya. Oleh karena itu, harus menjaga, memelihara, dan mendidik serta menyampaikan amanah itu kepada yang berhak menerimanya. Karena manusia adalah milik Allah SWT, mereka harus mengantarkan anaknya untuk mengenal dan menghadapkan diri kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman,
“Ia (Zakariya) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai,” (QS Maryam [19]: 4-6).
Ayat ini menggambarkan kerinduan Nabi Zakaria as. untuk mendapatkan keturunan walaupun usia beliau sudah lanjut dan istrinya mandul. Kerinduan Nabi Zakaria akan anak tidak didorong untuk menghindari pupusnya garis keturunan, melainkan keinginan kuatnya agar nilai-nilai perjuangan yang dimiliki keluarganya dilanjutkan oleh anaknya.
Sikap yang sama juga tercermin pada diri Nabi Ibrahim as dan nabi-nabi lainnya. Hal ini bisa dilihat pada firman Allah Swt berikut ini,
“(Ibrahim berkata), ‘ Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam’. Adakah kamu hadir ketika Ya’qaub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘ Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya’,” (QS Al-Baqarah [2]: 132-133).
Dalam ayat lain Allah Swt berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa neraka (perbuatan yang akan mencelakakan) yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]:6)
Juga firma-Nya dalam surat Thaha ayat 132,
 “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya,” (QS Thaha [20]:132)
Ayat di atas menceritakan bahwa para Nabi Allah selalu berwasiat kepada anak keturunanya tentang siapa yang akan mereka sembah setelah mereka meninggal dunia. Ini memberikan pelajaran berharga bahwa keluarga mempuyai posisi yang sangat strategis dan menentukan dalam upaya pembentukan karakter sebuah generasi. Generasi yang baik pada umumnya lahir dari keluarga yang baik. Sebaliknya, dari keluarga yang rusak tidak banyak diharapkan munculnya generasi yang memiliki watak dan kepribadian yang baik dan bertanggung jawab pula.
Dalam membangun keluarga sebagai salah satu institusi pendidikan yang kuat dan mendasar, peran kedua orang tua sangat menentukan. Yaitu, terutama menjadi contoh dan suri teladan bagi anak-anaknya. Bahasa teladan dan amal perbuatan ternyata jauh lebih efektif daripada bahasa lisan serta suruhan yang bersifat verbal. Anak-anak melihat apa yang dilakukan, bukan semata-mata mendengar apa yang diperintahkan.
Dan terlebih lagi, akan sangat berbahaya bagi pembentukan karakter anak apabila selalu terjadi kontadiksi antara perkataan dengan perbuatan. Karena itu, keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama dalam membangun dan membentuk kepribadian anak. Baik buruknya akhlak anak di masa dewasa sangat ditentukan pendidikan dalam keluarga..


C.     Peran Ayah sebagai Pemimpin dalam keluarga
Ayah merupakan sumber kekuasaan yang memberikan pendidikan anaknya tentang manajemen dan kepemimpinan; sebagai penghubung antara keluarga dan masyarakat dengan memberikan pendidikan anaknya komunikasi terhadap sesamanya; memberi perasaan aman dan perlindungan, sehingga ayah memberikan sikap yang bertanggung jawab dan waspada. Di samping itu, ayah sebagai hakim dan pengadilan dalam perselisihan yang memberikan pendidikan anaknya berupa sikap tegas, menjunjung keadilan tanpa memihak yang salah, dan berlaku rasional dalam meberi pendidikan anaknya dan menjadi dasar-dasar pengembangan daya nalar serta daya intelek, sehingga menghasilkan kecerdasan intelektual.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya  malaikat-malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS.At-Tahrim:6)
           
Dengan ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’ala mengingatkan orang-orang yang beriman, bahwa semata mata beriman saja belumlah cukup. Iman harus dipelihara, dirawat dan dipupuk dengan cara menjaga keselamatan diri dan seisi rumah tanga dari api neraka.
Ketika menafsirkan ayat ini Al-‘Allamah Ibnu Katsir menukilkan penjelasan para ahli tafsir baik dari generasi sahabat maupun tabi’in, sebagai berikut: Ali Radhiallahu ‘anhu  ketika menjelaskan kalimat “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” berkata, “Didiklah mereka dan ajarlah mereka”.  Ibnu Abbas berkata, “Taatlah kepada Allah, jauhilah perbuatan maksiat dan perintahkan keluargamu untuk selalu dzikir (ingat kepada Allah), maka Allah akan menyelamatkanmu dari api neraka.” Qotadah berkata, “Hendaknya engkau perintahkan keluargamu untuk mentaati Allah, engkau larang mereka berbuat maksiat, engkau layani mereka dengan ketentuan-ketentuan Allah dan engkau perintahkan serta engkau bantu mereka untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah. Apabila  engkau melihat mereka berbuat maksiat maka celalah dan hardiklah mereka.” Adl-Dlahak dan Muqatil berkata, “Setiap orang Islam berkewajiban untuk mengajar keluarganya baik kerabatnya maupun pembantunya tentang apa-apa yang diwajibkan oleh Allah dari apa-apa yang dilarang-Nya.” Selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan bahwa makna ayat ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Perintahkanlah anak untuk shalat ketika telah mencapai umur tujuh tahun dan apabila mencapai umur

Menurut Sayyid Sabiq, memelihara diri dan keluarga termasuk anak dari neraka adalah dengan pendidikan  dan pengajaran, kemudian memperhatikan perkembangan mereka agar berakhlak mulia dan menunjukkan kepada mereka hal-hal yang bermanfaat dan membahagiakan. Dengan demikian jelaslah betapa pentingnya pendidikan menurut Islam. Oleh karena itu siapa saja yang mendidik anak sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, ia akan mendapatkan pahala sedang siapa saja yang tidak memberikan pendidikan anak sebagaimana mestinya, ia akan mendapat siksa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

“Tidaklah seseorang diantara kamu yang memiliki tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan kemudian mendidik mereka dengan sebaik-baiknya kecuali ia akan masuk surga.” (HR.At-Tirmidzy dari Abu Said Al-Hudri)

Imam Al-Ghazali berkata, “Anak itu amanah Allah bagi kedua orangtuanya, hatinya bersih bagaikan mutiara yang indah bersahaja, bersih dari setiap lukisan dan gambar. Ia menerima setiap yang dilukiskan, cenderung ke arah apa saja yang diarahkan kepadanya. Jika ia dibiasakan belajar dengan baik ia akan tumbuh menjadi baik, beruntung di dunia dan diakhirat. Kedua orangtuanya semua gurunya, pengajar dan pendidiknya sama-sama mendapat pahala. Dan jika ia dibiasakan melakukan keburukan dan diabaikan sebagaimana mengabaikan hewan, ia akan celaka  dan rusak, dan dosanya menimpa  pengasuh dan orang tuanya.” Pendidikan yang baik merupakan pemberian terbaik orangtua kepada anak, sebagaimana sabda  Rasulullah SAW :
“Tidak ada pemberian orangtua kepada anak yang lebih utama daripada pendidikan yang baik.” (HR.At-Tirmidzy)

Di samping itu pendidikan yang baik juga merupakan wujud kasih sayang orang tua kepada anak, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits  dari Abu Sulaiman, Malik bin Al Haris berkata, “Kami pernah mendatangi nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan bermukim selama dua puluh malam. Beliau mengerti bahwa kami sangat menyayangi keluarga kami sehingga beliau menanyakan apa yang kami tinggalkan untuk keluarga kami. Kemudian kami menceritakan bahwa kami tidak meninggalkan apa-apa, lalu dengan lemah-lembut dan penuh kasih sayang beliau berkata:
“Kembalilah kalian kepada keluarga kalian, ajarlah mereka dan perintahkanlah mereka shalat…” (HR. Al-Bukhari)

D.    Tanggung Jawab Orang tua dalam Pendidikan Islam
Kelahiran anak dalam suatu keluarga selain memberikan kebahagian tersendiri juga menimbulkan tugas baru bagi kedua orang tuanya, tanggung jawab terhadap pemeliharaan dan pendidikannya. Islam memandang anak adalah amanah Allah yang harus di pelihara dengan baik dari segala sesuatu yang membahayakan baik yang berhubungan dengan badaniah maupun rohaniah.( Q.S An-Nisa’: 9)
Setiap orang Islam harus bertanggung jawab terhadap keselamatan generasi penerus  yang di tinggalkan dalam  keadaan lemah baik fisik maupun mental terutama mental sepritual. Oleh karena itu menyelamatkan mereka dengan jalan memberikan pendidikan aqidah (keimanan) pendidikan agama dan pendidikan akhlak yang mantap dalam seluruh aspek hidupnya, merupakan tanggung jawab utama setiap orang tua sehingga mereka tidak mudah di pengarui oleh kondisi dan situasi yang bagaimana pun. Dalam hal ini kedua orang tuanya mendidik dilingkungan keluarga serta menyerahkan kelembagaan tertentu dalam bidang pendidikan
Pendidikan agama dan spritual berarti membangkitkan kekuatan dan kesediaan yang bersifat naluri pada anak melalui bimbingan agama yang sehat dan mengamalkan ajaran-ajaran agama. Membebelkan anak-anak dengan pengetahuan agama, aqidah muamalah dan sejarah harus sesuai dengan tingkat usianya. Begitu juga dalam melaksanakan kewajiban agama dan menolongnya mengembangkan sikap agama yang betul, dimulai dari iman kepada Allah malaikat, rasul-rasul hari kiamat kepercayaan agama yang kuat takut kepada Allah dan selalu mendapat pengawasan-Nya dalam segala perbuatan dan perkataan.
Kewajiban pendidik dalam hal ini adalah menumbuhkan anak atas dasar pemahaman dan dasar-dasar iman dan ajaran Islam, sebagai aqidah maupun ibadah dan hanya mengambil Islam sebagai agamanya al-qur’an sebagai imannya dan rasul sebagai pemimpin dan teladanya.
Pendidikan iman menurut Nashih Ulwan (1990:65) adalah mengikat anak dengan dasar iman, rukun Islam dan dasar dasarnya iman adalah segala sesuatu yang di tetapkan melalui pemberitaan secara benar, berupa hakikat  imanan dan masalah gaip meliputi rukun iman seperti siksa kubur, surga, neraka hal gaip lainya. pembinaan dan pembiasaan ajaran agama ada anak sejek kecil, sangat penting kerena dengan demikian akan dapat mengetahui dan menangkap bahasa dan pengertian yang berhubungan   dengan  agama secara berlahan lahan karena kecerdasanya belum sampai ketarap untuk mendapat hal-hal yang sifat absrak
Zakiah Darajat mengatakan” apabila latihan-latihan keagamaan dilalaikan diwaktu kecil atau di berikan dengan cara yang kaku, salah dan tidakn cocok dengan kemampuan anak-anak, maka ketika dewasa akan kurang peduli terhadap ajaran agama. Dari uraian ini dapat dipahami bahwa kedua orang tualah sebagai pendidik pertama dan utama dalam setiap keluarga, dan bertanggung jawab penuh terhadap kelangsungan pendidikan anak-anaknya terutama sekali dalam bidang aqidah( Keimanan), sehingga menjadi anak yang taat bertaqwa kepada Allah SWT. berguna kepada kedua orang tuanya, agama, nusa dan bangsa
Namun tanggung jawab itu belum dilakukan oleh orang tua dan kelihatanya masih santai-santai saja, dan kalaupun ada tidak ada indikator keseriusan. Bahkan kata Azyumardi Azra” upaya perbaikanya belum dilakukan secara mendasar, sehingga terkesan seadanya saja.usaha pembaharuan dan peningkatan pendidikan Islam sering bersifat sepotong-potong atau tidak komprensif dan menyeluruh serta sebagian besar sistem dan lembaga pendidikan Islam belum di kelola secara propesioanal”
Kelemahan lainya menurut Azyumardi Azra adalah pola pengajaran keimanan masih mengunakan tiori yang tidak mendukung, kajian kitab pemahaman yang ekstrem, serta masih di pahaminya pengertian jihad yang sempit. Disamping itu, kualitas keilmuan dan keilmiahan masih kurang, masih memandang ilmu umum sebagai misi utama bahkan ada yang dianggap kafir, serta belum mempunyai pola pemikiran yang filosofis
Untuk menghadapi dan membangun masyarakat madani di Indonesia, diperlukan usaha pembaharuan pendidikan Islam secara mendasari yaitu:
  1. Perlu pemikiran kembali konsep pendidikan Islam yang betul-betul dirasakan pada asumsi dasar tentang manuasi, terutama pada fitrah atau potensi;
  2. Pendidikan Islam harus menuju pada intrekritas antara ilmu agama dan ilmu umum untuk tidak melahirkan jurang pemisah antara ilmu agama dan ilmu bukan agama, karena dalam pandangan Islam ilmu pengatahuan itu satu yaitu berasal dari Allah
  3. Pendidikan Islam didisain menuju sikap dan prilaku” Toleransi” lapang dada dalam berbagai hal, bidang pertama toleran dalam perbedaan pendapat dan penafsiran ajaran Islam tampa melepaskan pendapat atau prinsipnya yang diyakini.
  4. Pendidikan yang mampu menembuhkan kemampuan untuk berswadaya dan mandiri dalam kehidupan,
  5. Pendidikan yang menumbuhkan etos kerja, mempunyai aspirasi pada kerja, disiplin dan jujur.
  6. Pendidikan Islam perlu di didisain untuk mampu menjawab tantangan masyarakat untuk menuju masyarakat madani serta lentur terhadap perubahan zaman dan masyarakat.


E.     Tanggung Jawab ayah sebagai Pendidikan dalam Keluarga menurut Ilmu Pendidikan Islam
Akhir-akhir ini peran orang tua yang mengambil titik sentral ibu, mulai bergeser. Pandangan tentang motherhood beralih ke pandangan yang parenthood. Pandangan ini lebih terasa adil karena peran ayah dan ibu sama pentingnya dalam pengasuhan anak.
Mungkin sebagian orang mulai merenung, mengapa pandangan lama yang berpatokan pada budaya patriarki mulai bergeser? Hal ini dikarenakan banyaknya wanita yang berkiprah di luar rumah (bekerja). Kondisi ini menyebabkan para wanita ikut menyumbang dalam kehidupan ekonomi dalam keluarga. Dalam kondisi ini, mau atau tidak mau kaum lelaki (para suami) diharuskan mau berbagi tanggung jawab dalam mengurusi pekerjaan rumah. Selain itu, juga karena banyaknya hasil penelitian yang menginformsikan betapa peran ayah sangat penting dalam membentuk suatu kepribadian yang sehat bagi para anak-anaknya.
Dalam suatu penelitian, disebutkan bahwa ayah yang terlibat dalam pengasuhan anak, akan membentuk anak yang lebih mandiri dan berkompeten. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan ayah lebih suka membiarkan anak melakukan berbagai eksplorasi dan mengajari anak melakukan pemecahan masalah daripada membantu anak menyelesaikan permainannya.
Hasil penelitian lain menyebutkan bahwa anak yang mempunyai ayah yang 'care', lebih mempunyai kemampuan interpersonal yang baik. Hal ini memang wajar adanya karena baik anak yang berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan membutuhkan figur ayah dan ibu untuk melakukan identifikasi. Anak tetap membutuhkan teladan ayah dalam hal keberanian, ketegasan, kemandirian, pemecahan masalah, serta pengayom. Demikian juga anak tetap membutuhkan figur ibu yang sabar, lembut, perhatian, serta penyayang. Kedua figur tersebut mampu diserap anak dan menjadikan lebih mudah bereaksi sesuai dengan respon yang diterima (adaptif). Pribadi yang adaptif lebih menyenangkan diajak berinteraksi sehingga tampak pouler di lingkungannya.
Hal yang luput dari perhatian ayah selama ini, menurut hasil penelitian lain menyebutkan; anak perempuan yang dekat dengan ayah lebih lambat mengalami pubertas dan menstruasi. Mungkin kita akan bertanya apa hubungannya antara kedekatan ayah dengan lambatnya masa pubertas anak? Masa pubertas anak disokong kematangan organ seksual anak. Seorang anak yang tidak begitu dekat dengan ayah, tidak akan terbiasa dengan sosok laki-laki. Sehingga ketika ada teman laki-laki yang dekat, ia akan merasakan sensasi yang tidak sewajarnya. Kondisi ini mempermudah proses kematangan organ seksual anak, sehingga ia cepat mengalami menstruasi.
Para ayah sekarang, dalam posisi jabatan terpenting apapun di dunia ini, tidak lebih sibuk daripada Rasulullah saw. Kita sebagai umat Islam, sudah tentu ada teladan dalam patokan hidup yang akan kita jalankan. Rasulullah dengan segudang aktivitasnya tetap saja berinteraksi dengan keluarga, membantu istri menyelesaikan pekerjaan rumah, menyelesaikan keperluannya sendiri (menjahit baju beliau yang sobek pun dilakukan sendiri), dan mencandai anak-anak di sekitarnya. Kita bisa membaca sirah Nabi yang menceritakan berbagai aktivitas kesehartian Rasulullah, yaitu: sebagai pemimpin umat, penerima ribuan ayat yang harus disampaikan kepada umatnya, panglima perang (19 perang besar dan 53 berupa ekspedisi militer), qadhi yang menyelesaikan perkara umat, imam setiap shalat di masjid, selalu melakukan shalat tahajud, serta banyaknya keluarga yang harus ditanggung. Nah, dengan segudang aktivitas yang menuntut kerja keras dan manajemen yang smart tidak mungkin akan menghasilkan keberhasilan tanpa semua itu. Kalau sudah begini, siapa yang merasa lebih sibuk daripada Rasulullah, sehingga melalaikan anak dan keluarga?
Rasulullah adalah sosok ayah yang sempurna. Cinta dan perhatian dapa keluarga tidak akan ada yang bisa menandinginya. Tidakkah kita ingin mencontohnya? Walau kita tidak akan bisa sama sepertinya.
Menurut An-Nahlawi (1979:123-127) kewajiban orang tua dalam pendidikan anak-anaknya adalah :
1.      Menegakkan hukum-hukum Allah SWT (QS. Al-Baqoroh : 229-230)
2.      Merealisasikan ketentraman dan kesejahteraan keluarga (QS. Al-A’raf : 189)
3.      Melaksanakan perintah agama dan perintah Rasulullah SAW ( QS. At-Tahrim : 6)
4.      Mewujudkan rasa cinta kepada anak-anak melalui pendidikan
Ada beberapa hal yang diajarkan oleh Rasulullah ketika seorang ayah dianugrahi anak, yaitu :
1.      Azan dan Iqomah
2.      Mentahnik anak yang baru lahir
3.      Mencukur rambut
4.      Memberi nama yang baik
5.      Aqiqah bagi anak yang baru lahir
6.      Hal khitan
Adapun pendidikan yang harus diberikan oleh orangtua sebagai wujud tanggung jawab terhadap keluarga adalah:
1.      Pendidikan Agama
Pendidikan agama dan spiritual adalah pondasi utama bagi pendidikan keluarga. Pendidikan agama ini meliputi pendidikan aqidah, mengenalkan hukum halal-haram memerintahkan anak beribadah (shalat) sejak umur tujuh tahun, mendidik anak untuk mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, orang-orang yang shalih dan mengajar anak membaca Alquran. Al-Ghazali berkata, “Hendaklah anak kecil diajari Alquran hadits dan sejarah orang-orang shalih kemudian hukum Islam.”
2.      Pendidikan Akhlaq
Rasulullah SAW bersabda,
“Diantara kewajiban bapak kepada anaknya ialah memperbagus budi pekertinya dan membaguskan namanya.” (HR.Baihaqi).
Para ahli pendidikan Islam menyatakan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam, sebab tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mendidik jiwa dan akhlak. 


3.      Pendidikan Jasmani
Islam memberi petunjuk kepada kita tentang pendidikan jasmani agar anak tumbuh dan berkembang secara sehat dan bersemangat. Allah Ta’ala berfirman:
“Makanlah dan minumlah kamu tetapi jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak senang kepada orang yang berlebih-lebihan.” (QS.Al-A’raf [7]:31).
 Ayat ini sesuai dengan hasil penelitian para ahli kesehatan bahwa agar tubuh sehat dan kuat, dianjurkan untuk tidak makan dan minum secara berlebih-lebihan. Rasulullah SAW bersabda:

 “Ajarilah anak-anakmu berenang dan memanah. Sebaik-baik  pengisi waktu  bagi wanita beriman adalah memintal. Apabila kedua orang tuamu memanggilmu maka penuhilah panggilan ibumu.”
(HR Ad-Dailami)

Diriwayatkan bahwa setelah seluruh negeri Irak dibebaskan oleh shahabat Saad bin Abi Waqqash, beliau membuat rencana (maket) pembangunan kota Kuffah. Setelah maket itu diajukan kepada Khalifah Umar bin Al-Khattab beliau sangat menyetujui. Hanya beliau tambah bahwa disamping mendirikan masjid Jami’, hendaklah disediakan tanah lapangan tempat para pemuda berolah raga, latihan perang seperti melempar tombak, memanah, bermain pedang dan menunggang kuda. Di antara ucapan beliau yang terkenal ialah “Ajarkanlah kepada anak-anak kamu berenang dan memanah, hendaklah mereka dapat melompat ke punggung kuda sekali lompat”.
4.      Pendidikan Akal
Yang dimaksud  dengan pendidikan akal adalah meningkatkan kemampuan intelektual anak, ilmu alam, teknologi dan sains modern sehingga anak mampu menyesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah. Hal inilah yang diisyaratkan oleh Allah dengan proses penciptaan nabi Adam AS dimana sebelum ia diturunkan ke bumi, Allah mengajarkan nama-nama (asma) yang tidak diajarkan kepada para malaikat. (QS. Al-Baqarah [2]: 31) 
5.      Pendidikan Sosial
Yang dimaksud dengan pendidikan sosial adalah pendidikan anak sejak dini agar bergaul di tengah-tengah masyarakat dengan menerapkan prinsip-prinsip syari’at Islam.  Di antara prinsip syari’at Islam yang sangat erat berkaiatan dengan pendidikan sosial ini adalah prinsip ukhuwwah Islamiyah. Rasa ukhuwwah yang benar akan melahirkan perasaan luhur dan sikap positif untuk saling menolong dan tidak mementingkan diri sendiri. Islam telah menjadikan ukhuwwah Islamiyah sebagai kewajiban yang sangat fundamental dan mengibaratkan kasih sayang sesama muslim dengan sebatang tubuh, apabila salah satu anggota badannya sakit, maka yang lain ikut merasakannya. Untuk mewujudkan ukhuwah Islamiyah ini Islam telah menggariskan syari’at Al-Jama’ah (QS.Ali Imran [3] : 103). Oleh karena itu setiap orang tua harus mengajarkan kehidupan berjama’ah kepada anak-anaknya sejak dini.
Seluruh aspek pendidikan ini akan berjalan maksimal apabila orangtua dapat dijadikan teladan bagi anak-anaknya di samping harus berusaha secara maksimal agar setiap dia melakukan pekerjaan yang baik bagi keluarganya dapat melakukan seperti yang dia lakukan. Hal inilah yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW di tengah-tengah keluarganya.
Diriwayatkan oleh Muslim bahwa apabila Rasulullah SAW akan mengajarkan shalat witir (tahajud yang diakhiri dengan witir) beliau membangunkan isterinya (Aisyah).  “Bangunlah dan berwitirlah hai Aisyah”.  Dalam riwayat lain beliau bersabda:  “Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun pada sebagian malam lalu dibangunkannya keluarganya.  Kala dia tidak mau bangun dipercikkannya air di mukanya. Dan Allah merahmati seorang perempuan yang bangun pada sebagian malam lalu dibangunkannya suaminya. Kalau dia tidak mau bangun dipercikkanya di mukanya.” (HR.An-Nasai) 
Dengan keteladanan inilah orang tua  akan mempunyai pengaruh wibawa dan disegani di tengah-tengah keluarganya sehingga terwujudlah keluarga sakinah yang dihiasi dengan dzurriyah thoyibah (keturunan yang baik dan berkualitas) yang menjadi dambaan semua manusia.



BAB III
PENUTUP


A.     Simpulan
Dalam membangun keluarga sebagai salah satu institusi pendidikan yang kuat dan mendasar, peran kedua orang tua sangat menentukan. Yaitu, terutama menjadi contoh dan suri teladan bagi anak-anaknya. Bahasa teladan dan amal perbuatan ternyata jauh lebih efektif daripada bahasa lisan serta suruhan yang bersifat verbal. Anak-anak melihat apa yang dilakukan, bukan semata-mata mendengar apa yang diperintahkan.
Dan terlebih lagi, akan sangat berbahaya bagi pembentukan karakter anak apabila selalu terjadi kontadiksi antara perkataan dengan perbuatan. Karena itu, keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama dalam membangun dan membentuk kepribadian anak. Baik buruknya akhlak anak di masa dewasa sangat ditentukan pendidikan dalam keluarga.
Menurut An-Nahlawi (1979:123-127) kewajiban orang tua dalam pendidikan anak-anaknya adalah :
1.      Menegakkan hukum-hukum Allah SWT (QS. Al-Baqoroh : 229-230);
2.      Merealisasikan ketentraman dan kesejahteraan keluarga (QS. Al-A’raf : 189);
3.      Melaksanakan perintah agama dan perintah Rasulullah SAW ( QS. At-Tahrim : 6); dan
4.      Mewujudkan rasa cinta kepada anak-anak melalui pendidikan.
Adapun pendidikan yang harus diberikan oleh orangtua sebagai wujud tanggung jawab terhadap keluarga adalah:
1.      Pendidikan Agama
2.      Pendidikan Akhlak
3.      Pendidikan Akal
4.      Pendidikan Sosial




B.     Saran
Keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama  memegang peranan penting dalam proses pendidikan. Jika dalam keluarga tidak terjadi proses pendidikan yang sesuai dengan ajaran Islam, maka tidak akan tercapai tujuan pendidikan Islam yang selama ini dicta-citakan. Orang tua bertanggung jawab dalam pembentukan kepribadian anak yang Islami. Ayah sebagai pemimpin  diharapkan mampu membawa keluarga menjadi keluarga yang bercahayakan Islam. Siapa yang tidak merindukan akan keluarga yang disinari dengan cahaya Alquran, dipenuhi keberkahan. Kondisi keluarga yang harmonis akan mampu membawa keluarga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warohmah.
Tidak hanya itu, orang tua harus memberikan teladan yang baik bagi anak-anaknya. Bagaimana mungkin anaknya akan melaksanakan sholat, sedang orang tuanya tidak mengajarkan sholat, tidak melaksanakan sholat. Walalhu a’lam


DAFTAR PUSTAKA


Mujib, Abdul. Et al. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kencana Pernada Media Group.
Nata, Abuddin. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bandung : Angkasa.
Noer Aly, Hery. 2008. Watak Pendidikan Islam. Jakarta : Friska Agung Insani.
Tafsir, Ahmad. 1991. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
http://www.mailarchive.com/daaruttauhiid@yahoogroups.com/msg0555.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar