Kamis

MAKALAH Asal Mula Kehidupan di Bumi Menurut Pandangan Al-Qur’an




MAKALAH

Asal Mula Kehidupan di Bumi Menurut Pandangan Al-Qur’an


                                                   



















Disusun Oleh :

SOENOKO, S.KOM




BAB I
PENDAHULUAN

Kehidupan adalah fenomena atau perwujudan adanya hidup, yaitu keadaan yang membedakan organisme (makhluk hidup) dengan benda mati.
Berbagai jenis organisme dapat ditemukan di dalam biosfer bumi. Ciri umum organisme-organisme tersebut tumbuhan, hewan, fungi, protista, archaea, dan bakteri, ialah bentukan sel berbahan dasar karbon dan air dengan pengaturan kompleks dan informasi genetik yang dapat diwariskan. Organisme-organisme tersebut melakukan metabolisme, mampu tumbuh dan berkembang, tanggap terhadap rangsangan, berkembang biak, dan beradaptasi terhadap lingkungannya melalui seleksi alam.
Suatu entitas dengan ciri-ciri di atas disebut sebagai organisme hidup, yaitu makhluk hidup. Namun demikian, tidak semua definisi kehidupan menganggap semua ciri tersebut penting. Contohnya, kemampuan untuk memiliki keturunan dengan modifikasi sering dianggap sebagai satu-satunya ciri utama kehidupan. Definisi ini mencakup virus, yang umumnya tidak tercakup dalam definisi yang lebih sempit karena virus tidak memiliki sel dan tidak melakukan metabolisme.
Ciri-ciri kehidupan mencakup keteraturan, reproduksi, pertumbuhan dan perkembangan, pemanfaatan energi, respons terhadap lingkungan, homeostasis, dan adaptasi evolusioner.
Kehidupan tersusun sangat teratur dalam hierarki yang terdiri dari tingkatan-tingkatan struktural, setiap tingkat merupakan pengembangan dari tingkatan di bawahnya. Diawali dari tingkat paling rendah, atom-atom disusun menjadi molekul-molekul biologis yang kompleks yang kemudian tersusun menjadi organel, yang lalu menjadi komponen-komponen sel. Terdapat organisme yang terdiri dari sel tunggal, dan terdapat pula organisme lainnya yang merupakan agregat multiseluler dari banyak tipe sel yang terspesialisasi dan saling bekerja sama. Pada organisme multiseluler, sel-sel yang sama dikelompokkan menjadi jaringan, susunan spesifik dari jaringan-jaringan yang berbeda membentuk organ, dan organ-organ bergabung membentuk sistem organ. Individu organisme dari spesies yang sama dan hidup di tempat tertentu dapat berkelompok membentuk suatu populasi; populasi-populasi dari berbagai spesies berbeda yang hidup di daerah yang sama membentuk suatu komunitas biologis, dan interaksi-interaksi komunitas yang juga menyertakan unsur-unsur abiotik dari lingkungan membentuk suatu ekosistem. Setiap tingkatan struktur biologis tersebut mempunyai sifat-sifat baru yang tidak dijumpai pada tingkat organisasi di bawahnya yang dihasilkan dari interaksi antarkomponen pada suatu tingkat.
Makhluk hidup mampu menghasilkan sendiri keturunannya melalui proses reproduksi. Reproduksi dapat berupa pembelahan sebuah sel menjadi dua sel baru. Istilah reproduksi umumnya digunakan untuk menyebut proses menghasilkan suatu individu baru (secara aseksual, yaitu dari satu organisme induk, ataupun secara seksual, yaitu dari dua organisme induk yang berbeda), walaupun istilah tersebut sebenarnya juga menggambarkan proses menghasilkan sel-sel baru dalam proses pertumbuhan.
Dalam proses pertumbuhan, suatu makhluk hidup mengalami peningkatan ukuran pada semua atau sejumlah besar bagian tubuhnya. Pada organisme multiseluler, pertumbuhan biasanya berarti pertumbuhan populasi sel akibat proses perbanyakan sel. Pertumbuhan umumnya diiringi dengan perubahan bentuk dan fungsi bagian tubuh makhluk hidup, yaitu dalam proses perkembangan.
Ciri kehidupan berikutnya ialah pemanfaatan energi, yaitu bahwa makhluk hidup mengambil energi dan mentransformasinya sehingga dapat digunakan untuk melakukan berbagai pekerjaan. Proses ini terwujud sebagai metabolisme, yaitu pertukaran molekul secara terus-menerus di antara bagian-bagian organisme dan di antara organisme dan alam sekitarnya. Metabolisme terdiri dari penguraian bahan organik (katabolisme) dan pengubahan bahan organik menjadi komponen selular (anabolisme).
Makhluk hidup juga tanggap terhadap macam perubahan tertentu di alam sekitarnya yang bertindak sebagai stimuli. Tanggapan atau respons tersebut dapat berbentuk macam-macam, dari kontraksi pada organisme bersel tunggal jika disentuh, sampai reaksi kompleks yang melibatkan semua indera pada hewan tingkat tinggi. Ketanggapan ini bergantung pada koordinasi aktivitas bagian-bagian organismenya, yang pada organisme tingkat tinggi dapat dicapai dengan hormon (pada hewan dan tumbuhan) dan dengan saraf serta otot (pada hewan saja).
Mekanisme-mekanisme pengatur menjaga agar lingkungan internal suatu organisme tetap berada pada batas-batas yang sewajarnya walaupun lingkungan eksternalnya terus berubah. Proses pengaturan ini dinamakan homeostasis. Contohnya ialah proses berkeringat untuk menurunkan suhu tubuh.
Kehidupan terus berkembang sebagai hasil dari interaksi antara organisme dengan lingkungannya. Kemampuan organisme untuk berubah seiring waktu menanggapi lingkungan disebut adaptasi. Kemampuan ini merupakan dasar proses evolusi dan ditentukan oleh hereditas organisme maupun komposisi zat yang dimetabolisme serta faktor eksternal.



















BAB II
PEMBAHASAN

Asal mula kehidupan adalah salah satu hal yang paling banyak dipertentangkan secara sudut pandang, yaitu sudut pandang ilmu pengetahuan modern dan sudut pandang agama Islam.

2.1 Ilmu Pengetahuan Modern
Ilmu pengetahuan modern mempunyai beberapa hipotesis ataupun teori tentang asal mula kehidupan di bumi ini, antara lain:
a. Generation Spontanea
Orang menganggap bahwa makhluk hidup itu terbentuk secra spontan atau terbentuk dengan sendirinya, hipotesa ini muncul sebelum abad ke 17.
Timbulnya hipotesa tersebut karena pada abad tersebut, misalnya dilihat dari beberapa contoh kenyataan yang ada yaitu ulat timbul dengan sendirinya dari bangkai tikus, cacing timbul dengan sendirinya dari dalam lumpur, dan dari gudang padi ternyata muncullah tikus.
paham ini dipelopori oleh Aristoteles dan disebut abiogenesis yaitu makhluk hidup yang dapat terbentuk dari bukan makhluk hidup.
b. Cosmozoa
Hipotesa ini sangat lemah karena tidak didukung oleh fakta-fakta dan juga tidak menjawab asal mula kehidupan itu sendiri. Pendapatnya yaitu bahwa makhluk hidup di bumi asal usulnya dari luar angkasa, atau dari planet lain. Benda hidup yang dating itu mungkin berbentuk spora yang aktif jatuh ke bumi lalu berkembang biak.
c. Omme Vivum Ex Ovo
Teori ini artinya bahwa asal mula kehidupan berawal dari telur. Teori ini dikemukakan oleh Fransisco Redi (126-1597 M) ahli biologi bangsa Italia, dengan membuktikan bahwa ulat pada bangkai tikus berasal dari telur lalat yang meletakan telurnya dengan sengaja di situ.



d. Omme Ovo Ex Vivo
Arti dari teori ini yaitu bahwa telur berasal dari makhluk hidup. Teori ini muncul dari hasil percobaan Lazzaro Spalanzani (1729-1799 M), yang melakukan percobaan terhadap kaldu. Ia membuktikan bahwa jasad renik atau mikroorganisme yang mencemari kaldu dapat membusukan kaldu itu. Bila kaldu di tutup rapat setelah mendidih maka tidak ada pembusukan.
e. Omne Vivum Ex Vivo
Teori ini dikemukakan oleh Louis Pasteur (1822-1895 M), ia melakukan percobaan dengan meneruskan percobaan yang dilakukan Spallanzani yaitu dengan menggunakan berbagai mikroorganisme, tumbuh kehidupan yang baru disebut omne vivym ex vivo. Teori ini disebut juga teori Biologenesis, dengan konsep dasar bahwa yang hidup itu berasal dari yang hidup juga.
f. Teori Uray
Harold Uray (1893 M) adalah seorang ahli kimia dari Amerika Serikat, mengemukakan bahwa atmosfer bumi pada awal mulanya kaya akan gas-gas metana (CH4), amoniak (NH3), hydrogen (H2), dan air (H2O). Zat-zat itu merupakan unsur-unsur penting yang terdapat dalam makhluk hidup.
Dan dugaan yang dikemukakan yaitu karena adanya energy dari aliran listrik halilintar dan radiasi sinar kosmos unsur-unsur itu mengadakan reaksi-reaksi kimia membentuk zat-zat hidup. Zat hidup yang mula-mula terbentuk kira-kira sama dengan virus yang kita kenal sekarang. Zat-zat itu berjuta-juta berkembang menjadi berbagai jenis organisme.
Dan teori ini dilanjutkan oleh murid Uray yang bernama Stanley L. Miller pada tahun 1953 M. Miller membuat percobaan yang sangat berhasil untuk menguji anggapan bahwa pada kondisi awal dari atmosfer bumi yang kaya akan metan, amoniak, hydrogen, dan air dengan bntuan kilatan listrik dan suhu yang cukup, maka dapat terbentuk senyawa-senyawa organic termasuk asam amino, purin, pirimidin, gula ribose maupun deoksiribosa, asam nukleat maupun nukleosida seperti ATP. Yang mana semuanya itu adalah senyawa-senyawa dasar jasad hidup.

Selain teori asal usul kehidupan ada juga yang disebut dengan teori evolusi, diantaranya:
a. Teori Lamarck
Menurut Lamarck evolusi itu disebabkan adaptasi. Sifat-sifat baru didapat atas pengaruh lingkungan kemudian diteruskan pada keturunannya.
b. Teori Darwin
Ada dua teori pokok yang dikemukakan oleh Darwin:
1. Species yang hidup sekarang berasal dari spesies yang hidup di masa lampau.
2. Evolusi terjadi melalui seleksi alam.
c. Teori Darwin-Weismann
Weismann melengkapi teori Darwin yaitu dengan pernyataannya bahwa evolusi merupakan masalah genentika, yaitu menyangkut masalah bagaimana diwariskannya gen-gen melalui sel-sel kelamin. Sel-sel tubuh tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Jadi, evolusi adalah gejala seleksi alam terhadap factor genetika.
d. Teori De Vries
Teori yang diungkapkan oleh Botanikus Belanda ini, yaitu perubahan-perubahan pada evolusi disebabkan oleh adanya mutasi dari gen.
Mutasi adalah perubahan sempurna yang timbul dalam gen yang mengakibatkan perubahan sifat pada keturunannya. Ia memadukan teori mutasinya dengan teori Darwin menjadi sebagai berikut:
  1. Organism dengan ciri pembawaan yang baru tampak dengan segera (bukan perlahan-laha). Cirri pembawaan yang baru ini merupakan hasil dari perubahan atau mutasi di dalam gen.
  2. Mutasi dapat membuat organism terpengaruh ataupun tidak terpengaruh oleh lingkungan.
  3. Sebagai hal dari seleksi alam organism-organisme dengan mutasi kebanyakan dapat hidup lebih lama.
  4. Sejak hasil mutasi dapat diturunkan, perubahan-perubahan dapat diharapkan akan berlangsung terus dan spesies dengan sifat yang baru akan terus terbentuk.

Teori yang dapat diterima oleh para biolog saat ini adalah teori Darwin yang dimodifikasi oleh De Vries ini. Dari berbagai teori yang dikemukakan, didapat perbedaan antara makhluk hidup dengan benda mati, antara lain:
1. Bentuk dan Ukuran
Makhluk hidup mempunyai bentuk ukurannya tertentu, sedangkan benda mati tidak.
2. Komposisi Kimia
Makhluk hidup mempunyai komposisi kimia tertentu yaitu terdiri unsure-unsur Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Belerang atau Sulfur (S), Posfor (P), dan sedikit mineral. Benda mati komposisi kimianya tidak tertentu.
3. Organisasi
Setiap makhluk hidup terbentuk dari sel-sel. Sel-sel itu membentuk jaringan, dan jaringan ini membentuk organ. System organ ini membentuk proses hidup. Pada benda mati misalnya batu, susunan sedemkian rupa adalah hasil dari unsure pokoknya.
4. Metabolism
Pada makhluk hidup terjadi pengambilan dan penggunaan makanan, respirasi atau pernapasan, sekresi dan ekskresi.
5. Iritabilitas
Makhluk hidup dapat memberikan reaksi terhadap perubahan sekitarnya, misalnya cahaya, gerakan, kelembaban, dan suhu. Besarnya reaksi seimbang dengan aksi.
6. Reproduksi
Pada makhluk hidup, kemampuan untuk membuat makhluk itu menjadi banyak, sedangkan benda mati tidak.
7. Tumbuh dan mempunyai daur hidup
Setiap makhluk hidup mengalami proses pertumbuhan dan mempunyai daur hidup artinya melalui proses kelahiran, tumbuh dewasa dan mati. Benda mati membesar karena pengaruh luar seperti halnya pada Kristal.



Tetapi dari semua pasal tersebut, hanya ada tiga pasal yang menetapkan bahwa sesuatu itu adalah makhluk hidup:
a.           Mampu mengadakan metabolisme termasuk respirasi (bernapas).
b.      Mampu mengadakan reksi terhadap ransangan dengan tujuan defense atau memperthankan diri.
c.           Mampu mengadakan pertumbuhan dan reproduksi.


2.2 Agama Islam
Manusia seringali mempertanyakan untuk apa ia hidup dan apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup itu. Dari sudut pandang Islam, seseorang juga akan bertanya, di samping pertanyaan tersebut, “Apa yang menjadi tujuan dan sasaran diutusnya para nabi?”
Akan tetapi, tujuan dan misi para nabi tidak sama dengan tujuan setiap individu dalam masyarakat karena, para nabi diutus untuk memandu dan membimbing manusia kepada beberapa tujuan yang sangat penting dan mendasar.
Secara natural, misi para nabi, juga diyakini secara aklamasi, untuk memfasilitasi kesempurnaan manusia dan membantunya untuk menghilangkan segala cela, aib dan cacat yang ada, secara individual dan sosial. Hanya dengan bantuan wahyu yang dapat memajukannya dalam mencapai kesempurnaan. Dengan demikian, setiap orang harus melihat apa yang dapat ia capai setelah mengidentifikasi potensi yang ia miliki, kemudian mengaktualkan potensi tersebut. Demikianlah tujuan hidup kita.
Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan diutusnya para nabi adalah untuk membuat manusia kuat dalam ilmu dan resolusi, sehingga ia dapat belajar lagi dan lagi, dan memiliki kekuatan untuk melakukan apa yang ia senangi. Lalu, tujuan penciptaan sebuah biji adalah untuk menyadari potensi yang ia miliki untuk ia aktualkan menjadi sebuah pohon yang matang. Demikian juga, pertumbuhan tulang pada seekor anak hewan menjadi hewan yang dewasa memanifestasikan sebuah tujuan penciptaan (berguna untuk manusia). Potensi yang terdapat pada manusia adalah lebih superior, ia dimaksudkan untuk menjadi makhluk yang berilmu dan berkemampuan. Semakin ia tahu, semakin ia dapat menggunakan pengetahuannya dan semakin dekat ia kepada tujuan dan motif kemanusiaannya.
Dikatakan juga bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan sepanjang hayatnya, ia harus hidup dengan senang dan bahagia menikmati anugerah penciptaNya dan semesta. Tidak terlalu banyak memikul derita dan nestapa baik dari sebab-sebab alam maupun dari sebab-sebab sesama makhluk. Hal ini dipandang sebagai kebahagiaan. Artinya, mencapai kesenangan maksimal dan penderitaan minimal. Juga dikatakan bahwa para nabi diutus untuk membuat hal tersebut menjadi mungkin bagi manusia untuk mengamankan kesenangan maksimal dan meminimalkan penderitaan. Jika para nabi telah memperkenalkan dunia, selanjutnya pasca kehidupan dunia ini, hal itu dimaksudkan sebagai kelanjutan dari kehidupan dunia ini. Dengan kata lain, karena sebuah jalan telah ditunjukkan bagi kebahagiaan manusia maka bagi orang-orang yang mengikuti dan meniti jalan tersebut disediakan ganjaran pahala, dan bagi mereka yang menyimpang dan menentang disediakan hukuman yang setimpal. Ganjaran dan hukuman ini dihadirkan di dunia ini, sehingga hukum yang terdapat di dunia ini tidak menjadi sia-sia dan tiada guna. Terlebih, karena para nabi tidak berada pada posisi tinggi di dunia ini yang dapat memberikan pahala atau mengganjar dengan hukuman, dunia yang lain telah ditawarkan dimana pelaku kebaikan akan diganjari dan pelaku keburukan akan diganjara dengan hukuman.
Dalam al-Qur’an, dikatakan dimana tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah.


Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (Qs. adz-Dzariyat [51]:56)
Hal ini tampaknya sukar untuk dimengerti. Hal ini akan menimbulkan beberapa pertanyaan, apa gunanya berbibadah kepada Tuhan? Apakah ibadah memberikan manfaat bagi-Nya? Apa gunanya bagi manusia? Namun jawaban atas pertanyaan tersebut telah dijawab secara jelas dalam al-Qur’an bahwa ibadah merupakan tujuan penciptaan.
Berbeda dengan pandangan bahwa kehidupan selanjutnya merupakan cabang dari kehidupan dunia ini, al-Qur’an menegaskan: “Apabila tidak ada hari kebangkitan, penciptaan akan sia-sia.” Dan lagi disebutkan bahwa: “Apakah kalian mengira Kami telah menciptakanmu dalam keadaan sia-sia?” (Qs. al-Mu’minun [23]:115) Hal ini merupakan sugesti bagi sesuatu yang dikerjakan secara bijaksana yaitu tidak ada sesutau yang Allah cipatakan dengan sia-sia.
Sesungguhnya bahwa manusia diciptakan untuk mengetahui lebih banyak dan berbuat lebih banyak untuk mencapai tujuannya. Ia diciptakan untuk beribadah, dan ibadah kepada Tuhan merupakan tujuan itu sendiri. Apabila tidak ada pertanyaan ihwal mengetahui (mengenal) Tuhan yang merupakan pendahuluan ibadah, maka manusia telah gagal dalam langkahnya menuju kepada tujuan penciptaan, dan dari sudut pandang al-Qur’an ia tidak mendapatkan kebahagiaan.
Selain itu dalam Al-Qur’an pun dijelaskan pula tentang betapa sempurnanya manusia dengan asal penciptaannya, yaitu dalam surat Sad ayat 71-72





Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah".Maka apabila Telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya".
Dari sini jelaslah bahwa manusia terdiri dari dua unsure pokok yaitu, gumpalan tanah dan roh. Ia adalah kesatuan dari kedua unsure tersebut yang tidak dapat dipisahkan. Bila dipisah, maka ia bukan lagi manusia, sebagaimana halnya air, yang merupakan perpadua antara oksigen dan hydrogen, jika dalam kadar-kadar tertentu salah satunya terpisah maka bukan air lagi.
Demikialah semuanya dijelaskan di dalam Al-Qur’an tentang hakikat dan asal penciptaan manusia.
BAB III
PENUTUP


Ilmu pengetahuan modern mempunyai teori tersendiri tentang kehidupan, namun sebagai seorang yang beriman, kita harus mengacu pada Al-Qur’an yang merupakan ilmu dari segala sumber ilmu. Di dalam Al-Qur’an tertera jelas jawaban tentang semua pertanyaan manusia akan hakikat kehidupannya.


























DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Kehidupan
http://isyraq.wordpress.com/2007/12/17/arti-kehidupan/
Prayono, Joko & Mas’ud, Ibnu. Ilmu Alamiah Dasar. 2008. Bandung: Pustaka Setia.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar